Friday, 27 February 2026
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
Apa yang Diam-Diam Disiapkan Trump dan China untuk 2026?
Friday, 26 December 2025 11:09 WIB | GLOBAL ECONOMIC |Ekonomi Global

Menutup tahun 2025 dari Beijing, saya tidak mengklaim memiliki kemampuan meramal masa depan. Jika dinilai dari akurasi, prediksi sering kali gagal. Namun, bertahun-tahun sebagai jurnalis mengajarkan satu hal yang lebih berharga: mengetahui pertanyaan apa yang benar-benar penting untuk diajukan. Dan menjelang 2026, ada beberapa pertanyaan besar yang sulit dihindari, terutama ketika dunia baru saja melewati tahun penuh gejolak-perang tarif, pembatasan teknologi, dan pasar keuangan yang berayun tanpa arah pasti.

Salah satu isu paling menarik datang dari hubungan Amerika Serikat dan China. Pada akhir November, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melontarkan ide yang terdengar hampir terlalu ambisius: Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bisa bertemu langsung hingga empat kali sepanjang 2026. Pertemuan pertama direncanakan saat Trump berkunjung ke China pada April, disusul undangan balasan bagi Xi ke Amerika Serikat. Di paruh akhir tahun, kalender global menyediakan dua panggung besar lainnya-KTT APEC yang digelar China dan G-20 yang diselenggarakan AS.

Jika skenario ini terwujud, dunia akan menyaksikan intensitas pertemuan pribadi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara dua pemimpin kekuatan terbesar dunia. Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus mengkhawatirkan: apakah frekuensi pertemuan ini akan membawa stabilitas, atau justru memperbanyak gesekan?

Pengalaman 2025 memberi pelajaran penting. Setiap pertemuan tingkat tinggi antara Washington dan Beijing hampir selalu didahului oleh manuver politik dan ekonomi untuk memperkuat posisi tawar masing-masing. Tarif, pembatasan teknologi, dan kebijakan perdagangan sering kali digunakan sebagai alat tekanan. Dampaknya bukan hanya terasa di meja perundingan, tetapi juga mengguncang pasar keuangan global dan rantai pasokan dunia. Jika pola ini berulang pada 2026, dunia mungkin harus bersiap menghadapi periode ketidakpastian yang lebih sering dan lebih tajam.

Namun, ada sisi lain dari cerita ini. Sejak satu-satunya pertemuan langsung Trump dan Xi pada Oktober lalu, hubungan kedua negara tampak lebih tenang. China kembali membeli kedelai dari AS dan mengekspor magnet tanah jarang, sementara Washington menangguhkan biaya terhadap kapal-kapal China dan menunda langkah perdagangan terhadap industri semikonduktor Negeri Tirai Bambu. Langkah-langkah ini memberi sinyal bahwa dialog, meski singkat, mampu meredakan ketegangan yang sebelumnya memanas.

Jika satu pertemuan singkat saja bisa menghasilkan efek sebesar itu, bayangkan dampaknya jika empat pertemuan benar-benar terjadi dalam satu tahun. Stabilitas, atau bahkan kerja sama terbatas, akan menjadi kabar baik bagi dunia usaha dan pasar keuangan di kedua sisi Pasifik. Arus perdagangan bisa lebih terprediksi, dan risiko kejutan kebijakan mungkin berkurang.

Namun, tidak semua pihak akan merasa nyaman dengan dunia yang lebih "tenang" antara dua raksasa ini. Sekutu tradisional Amerika di Asia, seperti Jepang, mulai menunjukkan tanda-tanda kegelisahan. Laporan terbaru menyebutkan adanya kekecewaan di Tokyo atas minimnya dukungan Washington dalam perselisihan dengan Beijing, termasuk terkait isu Taiwan. Pernyataan pejabat AS yang menekankan bahwa Amerika bisa mendukung Jepang sambil tetap bekerja sama dengan China justru memperkuat kesan bahwa keseimbangan ini tidak mudah, dan tidak semua sekutu merasa diuntungkan.

Inilah dilema besar menuju 2026. Amerika tampaknya mencoba menyeimbangkan hubungan dengan China tanpa sepenuhnya mengorbankan sekutunya. Jika berhasil, dunia mungkin memasuki fase hubungan AS-China yang lebih stabil dan kurang konfrontatif. Namun, jika gagal, atau jika terlalu banyak pihak merasa ditinggalkan, tatanan global bisa bergeser ke arah yang lebih eksklusif-sebuah dunia "G-2" di mana dua kekuatan besar berbicara paling keras, sementara yang lain hanya bisa menyesuaikan diri. (az)

Sumber: Newsmaker.id

RELATED NEWS
Mahkamah Agung vs Tarif: Pasar Siaga Guncangan...
Thursday, 8 January 2026 20:09 WIB

Putusan Mahkamah Agung yang akan datang mengenai legalitas tarif besar-besaran yang diluncurkan Presiden Donald Trump pada bulan April, yang sempat mengguncang pasar, menjadi salah satu ujian besar be...

Tanker Rusia Disita, Trump Gencarkan Kendali Minyak Venezuela...
Thursday, 8 January 2026 15:54 WIB

AS menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik pada hari Rabu, satu di antaranya berlayar di bawah bendera Rusia, sebagai bagian dari upaya agresif Presiden Donal...

Sekutu Eropa Bersiap, Prancis Antisipasi Langkah AS Di Greenland...
Wednesday, 7 January 2026 17:56 WIB

Prancis bekerja sama dengan para mitra untuk menyusun rencana tentang bagaimana menanggapi jika Amerika Serikat bertindak sesuai ancamannya untuk mengambil alih Greenland, kata seorang menteri pada ha...

PBB: Dunia Makin Tidak Aman Usai Aksi AS di Venezuela...
Tuesday, 6 January 2026 20:38 WIB

Komunitas internasional harus memperjelas bahwa intervensi AS di Venezuela merupakan pelanggaran hukum internasional yang membuat dunia menjadi kurang aman, kata Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak...

Trump Ancam Iran soal Penindakan Protes di Tengah Kerusuhan Mematikan...
Friday, 2 January 2026 23:55 WIB

Presiden AS Donald Trump mengancam pada hari Jumat untuk membantu para demonstran di Iran jika pasukan keamanan menembaki mereka, beberapa hari setelah kerusuhan yang telah menewaskan beberapa orang d...

LATEST NEWS
Geopolitik Menahan Minyak, Data Stok Jadi Rem

Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini menegaskan satu hal: headline geopolitik masih...

NFP Kuat, Emas Melemah : CPI Jadi Penentu

Harga emas melemah tipis pada Kamis (12/2), seiring data ketenagakerjaan AS yang lebih solid mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Kuatnya data pekerjaan mendorong pelaku pasar menggeser...

Reli Terhenti, Hang Seng Tergelincir ; Big Caps Menekan

Indeks Hang Seng berbalik turun pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Kamis (12/2), melemah sekitar 0,9% dan turun ke kisaran 27.0 ribu setelah sesi sebelumnya sempat menguat. Pelemahan ini memutus momentum reli jangka pendek, seiring investor...

POPULAR NEWS