Friday, 06 March 2026
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
Damai atau Cuma Dagang Mineral? Kesepakatan Trump di Kongo Dipertanyakan
Friday, 5 December 2025 07:37 WIB | GLOBAL ECONOMIC |Ekonomi Global

Presiden Donald Trump mengumumkan pakta perdamaian baru antara Rwanda dan Republik Demokratik Kongo, yang dikaitkan dengan akses Amerika Serikat ke mineral penting. Dalam pertemuan di Washington, Trump mengklaim pemerintahannya telah "berhasil di mana banyak yang lain gagal" dan menyebut ini sebagai perang kedelapan yang ia akhiri dalam waktu kurang dari setahun. Namun di lapangan, kenyataannya jauh lebih rumit karena pertempuran di Kongo timur masih terus berlanjut meski perjanjian damai sebelumnya sudah ditandatangani.

Isi kesepakatan ini bukan hanya soal gencatan senjata, tetapi juga soal bisnis mineral. Perjanjian tersebut membuka akses bagi perusahaan-perusahaan AS ke cadangan tembaga dan kobalt di kawasan itu - bahan penting untuk membuat baterai ponsel dan kendaraan listrik. AS juga berinvestasi dalam proyek jalur kereta yang menghubungkan Samudra Atlantik hingga perbatasan Angola-Kongo untuk memperlancar aliran mineral. Langkah ini jelas bagian dari upaya AS bersaing dengan Tiongkok dalam perebutan mineral strategis dunia.

Meski di atas kertas terlihat menjanjikan, para analis memperingatkan bahwa menjalankan kesepakatan ini di wilayah yang sangat tidak stabil bukanlah hal mudah. Kelompok bersenjata M23 masih menguasai banyak wilayah di Kongo timur dan membangun "pemerintahan paralel" yang mengatur hampir semua hal, termasuk rantai pasokan mineral. Perundingan damai di Doha antara Kongo dan M23 belum menghasilkan kesepakatan soal pengembalian wilayah, pelucutan senjata, dan keadilan bagi korban. Selama kelompok bersenjata ini belum mau melepas kekuasaannya, perdamaian yang dijanjikan akan sulit tercapai.

Di tingkat elite politik, suasananya kontras. Presiden Rwanda Paul Kagame memuji Trump dan menyebut kesepakatan ini menyediakan semua yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik "selamanya", sambil menegaskan bahwa jika gagal, salahnya bukan pada Trump tapi pada para pemimpin Afrika sendiri. Di sisi lain, pejabat Kongo menuduh Rwanda tidak sungguh-sungguh menginginkan perdamaian, sementara sebagian politisi oposisi di Kongo menilai presiden mereka hanya mengejar urusan bisnis dengan AS dan "mengejek mayat-mayat Kongo" dengan menandatangani kesepakatan ini.

Suara dari lapangan jauh lebih suram. Aktivis dan warga di Kongo timur mengatakan peluru masih beterbangan dan orang-orang tidak aman, dengan ratusan warga sipil tewas hanya dalam sebulan terakhir. Beberapa tokoh masyarakat dan peneliti khawatir perjanjian ini hanya akan menjadi "pengumuman di atas kertas" tanpa niat kuat untuk dijalankan dengan itikad baik. Bagi warga seperti Pathy Musa, jika Rwanda tidak menghormati perjanjian, konflik ini bisa berubah menjadi perang tak berkesudahan yang menelan lebih banyak korban. Di tengah klaim perdamaian dan janji investasi besar, masyarakat di Kongo timur masih bertanya-tanya: ini benar-benar demi damai, atau sekadar demi mineral? (az)

Sumber: Newsmaker.id

RELATED NEWS
Mahkamah Agung vs Tarif: Pasar Siaga Guncangan...
Thursday, 8 January 2026 20:09 WIB

Putusan Mahkamah Agung yang akan datang mengenai legalitas tarif besar-besaran yang diluncurkan Presiden Donald Trump pada bulan April, yang sempat mengguncang pasar, menjadi salah satu ujian besar be...

Tanker Rusia Disita, Trump Gencarkan Kendali Minyak Venezuela...
Thursday, 8 January 2026 15:54 WIB

AS menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik pada hari Rabu, satu di antaranya berlayar di bawah bendera Rusia, sebagai bagian dari upaya agresif Presiden Donal...

Sekutu Eropa Bersiap, Prancis Antisipasi Langkah AS Di Greenland...
Wednesday, 7 January 2026 17:56 WIB

Prancis bekerja sama dengan para mitra untuk menyusun rencana tentang bagaimana menanggapi jika Amerika Serikat bertindak sesuai ancamannya untuk mengambil alih Greenland, kata seorang menteri pada ha...

PBB: Dunia Makin Tidak Aman Usai Aksi AS di Venezuela...
Tuesday, 6 January 2026 20:38 WIB

Komunitas internasional harus memperjelas bahwa intervensi AS di Venezuela merupakan pelanggaran hukum internasional yang membuat dunia menjadi kurang aman, kata Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak...

Trump Ancam Iran soal Penindakan Protes di Tengah Kerusuhan Mematikan...
Friday, 2 January 2026 23:55 WIB

Presiden AS Donald Trump mengancam pada hari Jumat untuk membantu para demonstran di Iran jika pasukan keamanan menembaki mereka, beberapa hari setelah kerusuhan yang telah menewaskan beberapa orang d...

LATEST NEWS
Geopolitik Menahan Minyak, Data Stok Jadi Rem

Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini menegaskan satu hal: headline geopolitik masih...

NFP Kuat, Emas Melemah : CPI Jadi Penentu

Harga emas melemah tipis pada Kamis (12/2), seiring data ketenagakerjaan AS yang lebih solid mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Kuatnya data pekerjaan mendorong pelaku pasar menggeser...

Reli Terhenti, Hang Seng Tergelincir ; Big Caps Menekan

Indeks Hang Seng berbalik turun pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Kamis (12/2), melemah sekitar 0,9% dan turun ke kisaran 27.0 ribu setelah sesi sebelumnya sempat menguat. Pelemahan ini memutus momentum reli jangka pendek, seiring investor...

POPULAR NEWS