Saturday, 07 March 2026
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
India Terjepit Tekanan Tarif AS
Thursday, 7 August 2025 15:27 WIB | GLOBAL ECONOMIC |Ekonomi Global

Skenario terburuk bagi India terkait tarif dari Amerika Serikat kini menjadi kenyataan. New Delhi menyebut keputusan Donald Trump pada hari Rabu(7/8) untuk melipatgandakan tarif atas barang-barang dari India menjadi 50% akibat pembelian minyak Rusia sebagai tindakan yang "sangat disayangkan". Namun, itu adalah pernyataan yang meremehkan. Menegosiasikan penurunan tarif yang tinggi ini sebelum berlaku dalam tiga minggu ke depan kini menjadi prioritas mendesak bagi Narendra Modi dan akan membutuhkan kompromi besar dari sang pemimpin India.

Tarif baru ini bisa menimbulkan dampak serius bagi ekonomi India yang bernilai $4 triliun. New Delhi sebelumnya gagal menurunkan tarif awal sebesar 25% yang diumumkan oleh Presiden AS pada 2 April. Itu sudah buruk, tetapi tidak membuat posisi India jauh lebih buruk dibanding negara lain. Analis dari Citi, sebuah bank asal AS, memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi ini bisa memangkas pertumbuhan PDB sebesar 80 basis poin atau lebih, dari sebelumnya 6,5% pada tahun yang berakhir Maret, dan bahkan bisa membuat ekspor India ke AS menjadi "tidak layak". Tahun lalu, ekspor ini mencapai $87 miliar.

Dampak besar ini bisa memaksa pemerintah untuk mendukung para eksportirnya, baik melalui dukungan fiskal atau dengan melemahkan nilai tukar mata uang. Kedua opsi ini tidak ideal karena defisit fiskal India terus melebar akibat penurunan penerimaan pajak, sementara stabilitas nilai tukar rupee menjadi pilar utama dalam upaya India menarik investasi global dan meyakinkan perusahaan asing bahwa negara ini terbuka untuk bisnis.

Kini setelah India terpojok, solusi paling sederhana untuk menstabilkan hubungan dengan mitra dagang terbesarnya adalah berhenti membeli minyak dari Rusia, yang saat ini menyumbang 40% dari total impor minyak mentah. Meskipun pemerintahan Modi bersikeras bahwa pembelian tersebut adalah "kebutuhan nasional", India sebenarnya dapat bertahan tanpa diskon yang makin berkurang dari Moskow terutama jika harga minyak global tetap stabil seperti saat ini.

Tentu saja, menjauhi Rusia akan menjadi pukulan bagi upaya India mempertahankan kebijakan luar negeri multi-kutub, tetapi tarif 50% terlalu berat untuk ditanggung, dan melawan balik bisa menimbulkan kerugian yang lebih besar. AS hanya mundur dari konfrontasinya dengan China setelah Tiongkok membatasi pasokan rare earth, sektor di mana negara itu menguasai 90% kapasitas pemrosesan.

Meski India memasok sekitar 65% obat generik di AS dan perusahaan-perusahaan AS sangat bergantung pada layanan TI dari India, keduanya masih lebih mudah digantikan dibanding rare earth. Apakah Trump akan berhasil memaksa China berhenti membeli minyak Rusia masih belum jelas. Tapi India punya posisi tawar yang lebih lemah dan hampir tidak punya ruang untuk menggertak. (azf)

Sumber: Reuters

RELATED NEWS
Mahkamah Agung vs Tarif: Pasar Siaga Guncangan...
Thursday, 8 January 2026 20:09 WIB

Putusan Mahkamah Agung yang akan datang mengenai legalitas tarif besar-besaran yang diluncurkan Presiden Donald Trump pada bulan April, yang sempat mengguncang pasar, menjadi salah satu ujian besar be...

Tanker Rusia Disita, Trump Gencarkan Kendali Minyak Venezuela...
Thursday, 8 January 2026 15:54 WIB

AS menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik pada hari Rabu, satu di antaranya berlayar di bawah bendera Rusia, sebagai bagian dari upaya agresif Presiden Donal...

Sekutu Eropa Bersiap, Prancis Antisipasi Langkah AS Di Greenland...
Wednesday, 7 January 2026 17:56 WIB

Prancis bekerja sama dengan para mitra untuk menyusun rencana tentang bagaimana menanggapi jika Amerika Serikat bertindak sesuai ancamannya untuk mengambil alih Greenland, kata seorang menteri pada ha...

PBB: Dunia Makin Tidak Aman Usai Aksi AS di Venezuela...
Tuesday, 6 January 2026 20:38 WIB

Komunitas internasional harus memperjelas bahwa intervensi AS di Venezuela merupakan pelanggaran hukum internasional yang membuat dunia menjadi kurang aman, kata Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak...

Trump Ancam Iran soal Penindakan Protes di Tengah Kerusuhan Mematikan...
Friday, 2 January 2026 23:55 WIB

Presiden AS Donald Trump mengancam pada hari Jumat untuk membantu para demonstran di Iran jika pasukan keamanan menembaki mereka, beberapa hari setelah kerusuhan yang telah menewaskan beberapa orang d...

LATEST NEWS
Geopolitik Menahan Minyak, Data Stok Jadi Rem

Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini menegaskan satu hal: headline geopolitik masih...

NFP Kuat, Emas Melemah : CPI Jadi Penentu

Harga emas melemah tipis pada Kamis (12/2), seiring data ketenagakerjaan AS yang lebih solid mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Kuatnya data pekerjaan mendorong pelaku pasar menggeser...

Reli Terhenti, Hang Seng Tergelincir ; Big Caps Menekan

Indeks Hang Seng berbalik turun pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Kamis (12/2), melemah sekitar 0,9% dan turun ke kisaran 27.0 ribu setelah sesi sebelumnya sempat menguat. Pelemahan ini memutus momentum reli jangka pendek, seiring investor...

POPULAR NEWS