Thursday, 18 June 2026
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
RECENT NEWS
Minyak Tertekan, Menuju Kerugian Mingguan Kedua
Friday, 7 November 2025 16:44 WIB | Minyak WTI brent oil

Harga minyak naik pada hari Jumat(7/11), tetapi masih berada di jalur untuk kerugian mingguan kedua berturut-turut setelah tiga hari penurunan akibat kekhawatiran kelebihan pasokan dan melambatnya permintaan AS. Harga minyak mentah Brent naik 60 sen, atau 1%, menjadi $63,98 per barel pada pukul 09.04 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 61 sen, atau 1%, menjadi $60,04. Kedua harga acuan minyak tersebut diperkirakan akan mencatat penurunan mingguan lebih dari 1,5% karena produsen global terkemuka meningkatkan produksi. "Pasar terus mempertimbangkan peningkatan surplus minyak...

USD Rebound di Awal Eropa
Friday, 7 November 2025 16:33 WIB | Indeks Dolar USD

Dolar AS memangkas kerugian pada hari Jumat (7/11) karena investor waspada terhadap risiko ditengah aksi jual yang kembali di Wall Street, karena kekhawatiran akan gelembung AI masih ada. Indeks USD, yang mengukur nilai Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, diperdagangkan pada 99,85 di awal sesi Eropa, naik dari level terendah mingguan di sekitar 99,65. Greenback mendapat sedikit dukungan dari penghindaran risiko karena pasar Asia mengikuti Wall Street dan mencatat kerugian yang signifikan, dengan saham teknologi memimpin penurunan. Kekhawatiran akan kehancuran seperti dotcom,...

Perak Mengilap, Dolar Loyo?
Friday, 7 November 2025 11:25 WIB | SILVER

Perak bergerak di kisaran tinggi (kontrak Desember COMEX sekitar $48-49/oz) seiring sentimen "risk-off" meluas dan dolar AS melemah. Data PHK versi Challenger yang melonjak tajam pada Oktober meningkatkan keyakinan pasar bahwa The Fed bisa memangkas suku bunga lebih cepat, sehingga mendongkrak minat ke logam mulia. Namun reli perak cenderung lebih kalem dibanding emas karena perak juga sangat bergantung pada siklus industri. Dari sisi fundamental, keseimbangan pasar jangka menengah tetap ketat: The Silver Institute memperkirakan defisit pasokan berlanjut pada 2025, meski ada "thrifting"...

Emas Naik Tipis, Sinyal Bahaya dari AS?
Friday, 7 November 2025 07:16 WIB | GOLD

Emas menguat di sesi Asia seiring munculnya tanda-tanda rapuhnya ekonomi AS. Perusahaan-perusahaan AS melaporkan rencana pemangkasan lebih dari 150.000 pekerjaan pada bulan lalu-nyaris tiga kali lipat dibanding September-menurut konsultan Challenger, Gray & Christmas. Data ini menambah kekhawatiran pasar dan mendorong minat pada aset lindung nilai. Di saat yang sama, penutupan pemerintah AS memasuki hari ke-37. Dampaknya makin terasa: Otoritas Penerbangan Federal (FAA) memerintahkan pengurangan lalu lintas 10% di 40 bandara. Kebijakan ini memperkuat sinyal perlambatan aktivitas,...