
Harga minyak menguat pada Rabu (11/2), ditopang kombinasi premi risiko geopolitik dari ketegangan AS“Iran dan sinyal permintaan Asia yang lebih solid khususnya dari India yang ikut mengurangi kekhawatiran surplus di pasar. Pelaku pasar menilai headline Timur Tengah kembali "lebih berat" dibanding sentimen negatif dari lonjakan persediaan minyak AS.
Pada pukul 09:15 GMT, Brent naik 78 sen (+1,13%) ke $69,77 per barel, sementara WTI menguat 75 sen (+1,18%) ke $64,52 per barel. Kenaikan ini memperpanjang penguatan dua hari terakhir, seiring pasar kembali memasang "risk premium" pada jalur suplai strategis di kawasan Teluk.
Dari sisi geopolitik, Teheran menyatakan pembicaraan nuklir dengan AS memberi ruang untuk mengukur keseriusan Washington dan masih ada konsensus untuk melanjutkan jalur diplomatik. Namun, optimisme itu cepat berhadapan dengan risiko eskalasi setelah muncul laporan AS mempertimbangkan opsi mengirim kapal induk kedua bila negosiasi gagal membuat pasar kembali menghitung skenario gangguan suplai dan potensi respons Iran.
Faktor pendukung lain datang dari India. Sejumlah penyuling India dilaporkan mengurangi pembelian minyak Rusia dalam konteks negosiasi dagang dengan AS yang pada gilirannya mendorong pembelian dari Timur Tengah dan Afrika Barat. Aliran permintaan ini membantu pasar menyerap barel berlebih yang sempat terlihat di akhir 2025, sehingga tekanan surplus sedikit mereda.
Di sisi fundamental AS, pasar juga menunggu data resmi persediaan dari EIA. Konsensus memperkirakan stok minyak mentah naik sekitar 800 ribu barel untuk pekan yang berakhir 6 Februari, sementara stok distilat dan bensin diperkirakan turun. Sebelumnya, API melaporkan stok minyak mentah AS melonjak 13,4 juta barel jika terkonfirmasi, ini menjadi kenaikan terbesar sejak November 2023 dan berpotensi menahan kenaikan harga jika fokus pasar beralih ke sisi suplai.
Ke depan, arah minyak akan sangat bergantung pada dua pemicu: (1) apakah headline AS “ Iran bergerak ke arah de eskalasi atau justru memperbesar risiko, dan (2) apakah data EIA mengonfirmasi lonjakan stok yang besar. Selama ketidakpastian Timur Tengah tetap tinggi, pasar cenderung mempertahankan premi risiko meski ruang volatilitas tetap terbuka bila data stok memperburuk kekhawatiran demand. (arl) [sma]
Source : Newsmaker.id
Minyak masih bertahan di zona hijau di hari Selasa (10/2), karena pasar belum berani buang "premi risiko" Timur Tengah. Per pukul 13:07 GMT (20:07 WIB), Brent naik +0,4% ke $69,32/barel, sementara WTI...
Oil prices fell about 1% on Monday as concerns about conflict in the Middle East eased slightly. The market calmed after the US and Iran agreed to resume talks on Tehran's nuclear program, reducing fe...
Harga minyak bergerak sedikit naik dalam sesi yang bergejolak pada Jumat, ketika investor menilai arah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Pergerakan harga terlihat sensitif terhadap s...
Harga minyak kembali merosot pada hari Kamis (5/2) setelah Iran memastikan akan membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat. Kepastian dialog ini menurunkan kekhawatiran pasar atas risiko serangan ...
Oil prices rose for the second consecutive day after US-Iran tensions resurfaced. The trigger: the US reportedly shot down an Iranian drone near an American aircraft carrier in the Arabian Sea an even...
Harga minyak menguat pada Rabu (11/2), ditopang kombinasi premi risiko geopolitik dari ketegangan AS“Iran dan sinyal permintaan Asia yang lebih solid khususnya dari India yang ikut mengurangi kekhawatiran surplus di pasar. Pelaku pasar menilai...
Harga emas menguat pada Rabu (11/2), ditopang pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi AS setelah data ekonomi terbaru memperkuat narasi bahwa Federal Reserve berpeluang melanjutkan pelonggaran kebijakan. Investor kini bersikap lebih...
Indeks Hang Seng memperpanjang reli untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Rabu (11/2). Indeks naik 0,3% atau 83,23 poin dan ditutup di 27.266,38, sekaligus menandai level penutupan tertinggi sejak 30 Januari....