
Harga minyak naik sekitar 2% pada hari Jumat (11/7) karena investor mempertimbangkan pasar jangka pendek yang ketat dibandingkan dengan potensi surplus besar tahun ini yang diproyeksikan oleh IEA, sementara tarif AS dan kemungkinan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia juga menjadi fokus.
Harga minyak mentah berjangka Brent naik $1,35, atau 2%, menjadi $69,99 per barel pada pukul 10:48 EDT (1458 GMT). Minyak mentah West Texas Intermediate AS naik $1,49, atau 2,2%, menjadi $68,06 per barel. Pada level tersebut, Brent diperkirakan akan menguat 2,5% minggu ini, sementara WTI naik sekitar 1,6% dari penutupan minggu lalu.
IEA mengatakan pada hari Jumat bahwa pasar minyak global mungkin lebih ketat daripada yang terlihat, dengan permintaan yang didukung oleh puncak operasional kilang di musim panas untuk memenuhi kebutuhan perjalanan dan pembangkit listrik. Kontrak Brent bulan depan untuk bulan September diperdagangkan dengan premi $1,18 terhadap kontrak berjangka Oktober pada pukul 10.48 EDT.
"Nilai minyak mentah didukung oleh persepsi pengetatan neraca yang signifikan dengan kurva spread yang terus curam yang memberikan penjelasan dalam hal ini," ujar analis di perusahaan konsultan energi Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan. Terlepas dari ketatnya pasar jangka pendek, IEA meningkatkan proyeksi pertumbuhan pasokan tahun ini, sekaligus memangkas prospek pertumbuhan permintaan, yang menyiratkan pasar surplus.
"OPEC+ akan segera dan secara signifikan meningkatkan pasokan minyak. Ada ancaman kelebihan pasokan yang signifikan. Namun, dalam jangka pendek, harga minyak tetap terdukung," ujar analis Commerzbank dalam sebuah catatan, merujuk pada Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.
Menambah dukungan terhadap prospek jangka pendek, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pada hari Jumat bahwa Rusia akan mengkompensasi kelebihan produksi terhadap kuota OPEC+ tahun ini pada periode Agustus-September.
Tanda lain dari permintaan minyak jangka pendek yang kuat adalah prospek Arab Saudi mengirimkan sekitar 51 juta barel minyak mentah ke Tiongkok pada bulan Agustus, pengiriman terbesar dalam lebih dari dua tahun. Namun, dalam jangka panjang, OPEC memangkas proyeksi permintaan minyak global pada periode 2026-2029 karena melambatnya permintaan Tiongkok, ungkap kelompok tersebut pada hari Kamis dalam Prospek Minyak Dunia 2025.
Kedua kontrak berjangka acuan turun lebih dari 2% pada hari Kamis karena investor khawatir tentang dampak kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang terus berkembang terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak. "Harga telah pulih dari penurunan ini setelah Presiden Trump mengatakan ia berencana untuk membuat pernyataan 'besar' tentang Rusia pada hari Senin. Hal ini dapat membuat pasar khawatir tentang potensi sanksi lebih lanjut terhadap Rusia," tulis analis ING dalam catatan klien.
Trump telah menyatakan frustrasi terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin karena kurangnya kemajuan dalam mengakhiri perang di Ukraina dan meningkatnya pemboman Rusia terhadap kota-kota Ukraina. Komisi Eropa akan mengusulkan pembatasan harga minyak mengambang bagi Rusia minggu ini sebagai bagian dari rancangan paket sanksi baru, tetapi Rusia mengatakan pihaknya memiliki "pengalaman baik" dalam menangani dan meminimalkan tantangan tersebut.(alg)
Sumber: Reuters
Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini...
Harga minyak menguat pada Rabu (11/2), ditopang kombinasi premi risiko geopolitik dari ketegangan AS“Iran dan sinyal permintaan Asia yang lebih solid khususnya dari India yang ikut mengurangi kekhaw...
Minyak masih bertahan di zona hijau di hari Selasa (10/2), karena pasar belum berani buang "premi risiko" Timur Tengah. Per pukul 13:07 GMT (20:07 WIB), Brent naik +0,4% ke $69,32/barel, sementara WTI...
Oil prices fell about 1% on Monday as concerns about conflict in the Middle East eased slightly. The market calmed after the US and Iran agreed to resume talks on Tehran's nuclear program, reducing fe...
Harga minyak bergerak sedikit naik dalam sesi yang bergejolak pada Jumat, ketika investor menilai arah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Pergerakan harga terlihat sensitif terhadap s...
Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini menegaskan satu hal: headline geopolitik masih...
Harga emas melemah tipis pada Kamis (12/2), seiring data ketenagakerjaan AS yang lebih solid mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Kuatnya data pekerjaan mendorong pelaku pasar menggeser...
Indeks Hang Seng berbalik turun pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Kamis (12/2), melemah sekitar 0,9% dan turun ke kisaran 27.0 ribu setelah sesi sebelumnya sempat menguat. Pelemahan ini memutus momentum reli jangka pendek, seiring investor...