Tuesday, 07 April 2026
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
RECENT NEWS
Emas Sudah Naik 60%, Masih Bisa Lebih Tinggi?

Harga emas hari ini cenderung stabil setelah naik selama tiga hari berturut-turut, didukung ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan di Amerika Serikat. Emas batangan bergerak tipis di sekitar level $4.280 per ons, setelah menguat 1,2% di sesi sebelumnya. The Fed baru saja memangkas suku bunga dan membuka peluang pemotongan tambahan tahun depan, sementara pasar swap bahkan bertaruh akan ada dua kali pemangkasan pada 2026, meski bank sentral hanya memberi sinyal satu kali. Lingkungan suku bunga rendah ini menjadi faktor penting yang kembali mengangkat minat terhadap logam mulia. Faktor...

Brent Tertekan Damai Ukraina & Data BBM AS

Harga minyak Brent hari ini cenderung melemah setelah semalam ditutup turun sekitar 1,5% ke kisaran $61-an per barel, tertekan fokus pasar pada kemajuan perundingan damai Rusia-Ukraina dan kekhawatiran permintaan BBM di AS. Investor menilai, jika perdamaian tercapai, sebagian pasokan minyak Rusia yang kini tertahan sanksi bisa kembali mengalir ke pasar global, sehingga menambah tekanan suplai ke depan. Dari sisi data, laporan EIA menunjukkan stok bensin dan distilat AS naik cukup besar, mengindikasikan permintaan bahan bakar yang tidak terlalu kuat dan menekan margin kilang. Di saat yang...

Perak Masih Panas atau Siap Koreksi?

Harga perak hari ini masih bergerak di level tinggi, bertahan dekat rekor setelah reli tajam dalam beberapa pekan terakhir. Sentimen utamanya datang dari ekspektasi pelonggaran moneter lanjutan di AS setelah The Fed kembali memangkas suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah membuat aset tanpa imbal hasil seperti perak dan emas jadi lebih menarik, apalagi di tengah kekhawatiran inflasi dan pelemahan dolar AS. Dari sisi fundamental, perak diuntungkan oleh dua sumber permintaan: sebagai logam mulia dan sebagai logam industri. Permintaan fisik dari sektor panel surya, kendaraan listrik, dan...

Yen Siap Balik Arah?

Yen Jepang (JPY) masih dalam tekanan dan cenderung melemah tipis terhadap dolar AS di sesi Asia hari Jumat. Investor khawatir dengan kondisi keuangan Jepang yang makin berat karena rencana belanja besar-besaran Perdana Menteri Sanae Takaichi, sementara ekonomi tumbuhnya masih lambat. Di saat yang sama, suasana pasar yang lagi risk-on membuat yen kalah saing sebagai aset safe-haven. Tapi untuk jatuh lebih dalam, yen kelihatannya masih tertahan karena makin banyak spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) bisa saja naikkan suku bunga secepat minggu depan. Karena itulah banyak trader memilih...

Dolar AS Mulai Kehabisan Tenaga?

Indeks dolar AS bergerak naik-turun di dekat level terendah dua bulan di sekitar 98,3 pada hari Jumat(12/12) dan tampaknya akan mencatat penurunan untuk minggu ketiga berturut-turut. Pelemahan ini muncul setelah Federal Reserve memangkas suku bunga sesuai perkiraan, tapi dengan nada yang tidak se-agresif yang diharapkan pasar. Ketua The Fed Jerome Powell memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan hampir pasti tidak akan terjadi, dan proyeksi resmi hanya menunjukkan satu kali pemangkasan tahun depan. The Fed juga mengumumkan rencana membeli surat utang Treasury jangka pendek untuk...