
Bursa Asia dibuka melemah di pekan perdagangan penuh terakhir 2025, dipicu kekhawatiran soal prospek laba perusahaan teknologi dan belanja AI yang makin besar. Indeks saham regional versi MSCI turun sekitar 0,4%, sementara Korea Selatan yang selama ini ikut "euforia AI" jatuh lebih dari 2%. Di AS, futures indeks bergerak naik-turun tipis setelah Wall Street pada Jumat ditutup turun, dipimpin pelemahan saham-saham teknologi. Bitcoin juga ikut loyo, turun ke sekitar US$88.000.
Sentimen risk-on global lagi kendor karena investor mulai ragu: apakah saham teknologi masih pantas dihargai mahal, dan apakah belanja AI yang agresif benar-benar bakal menghasilkan cuan besar. Asia dinilai lebih rentan karena banyak negara di kawasan ini bergantung pada manufaktur komponen yang jadi "tulang punggung" boom teknologi. Beberapa analis bahkan melihat pergerakan ini sebagai sinyal awal kalau "gelembung AI" bisa pecah dalam waktu dekat.
Tanda-tanda skeptisisme makin kelihatan: dari aksi jual saham Nvidia, sampai Oracle yang anjlok setelah mengungkap biaya AI yang meningkat, plus sentimen yang memburuk pada jaringan perusahaan yang terekspos ke OpenAI. Pertanyaan besarnya menuju 2026: investor harus mengurangi porsi AI karena takut bubble pecah, atau justru tambah eksposur karena AI dianggap teknologi yang bakal mengubah segalanya? Kekhawatiran utamanya tetap sama-biaya pengembangan AI mahal, manfaatnya besar tapi belum semua jelas, dan belum tentu konsumen mau bayar layanan AI semahal itu.
Di sisi lain, pasar obligasi AS relatif stabil karena perdebatan masih panas soal seberapa jauh The Fed akan melonggarkan kebijakan tahun depan. Ada pejabat yang ingin suku bunga tetap agak ketat untuk menekan inflasi, tapi ada juga yang memproyeksikan pemangkasan lebih banyak di 2026. Emas cenderung datar setelah beberapa hari naik, dolar bergerak sempit, dan pasar menanti data China (penjualan ritel, produksi industri) serta rapat bank sentral besar minggu ini seperti BoE dan BoJ. Bahkan "Santa Rally" pun dibilang susah nyala kalau ketakutan valuasi AI makin besar-tapi kalau ada katalis dari data/rapat bank sentral, bisa jadi pemicu pantulan¦ atau malah sell-off makin dalam. (az)
Sumber: Newsmaker.id
Tested ID...
Bursa saham Asia melemah untuk hari kedua berturut-turut, menandakan reli awal tahun yang sempat "ngebut" mulai kehilangan tenaga. Di saat yang sama, obligasi pemerintah AS (Treasuries) mempertahankan...
Saham AS beragam pada hari Rabu karena investor mempertimbangkan data ekonomi yang tidak merata dibandingkan dengan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve, dengan S&P 500 turun 0...
Saham-saham Eropa berada di wilayah yang beragam pada Rabu pagi, seiring dengan meningkatnya kegelisahan pasar regional atas ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland. Indeks Stoxx 6...
Pasar saham Asia sedikit melemah pada Rabu setelah mencatat awal tahun terbaik sepanjang sejarah. Pelemahan dipicu oleh turunnya saham Jepang di tengah meningkatnya ketegangan dengan China. Indeks Nik...
Harga minyak stabil pada perdagangan Kamis (12/2), seiring pasar kembali melihat risk premium terhadap tensi AS “ Iran meski data persediaan AS menunjukkan suplai domestik membengkak. Pergerakan ini menegaskan satu hal: headline geopolitik masih...
Harga emas melemah tipis pada Kamis (12/2), seiring data ketenagakerjaan AS yang lebih solid mengurangi keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Kuatnya data pekerjaan mendorong pelaku pasar menggeser...
Indeks Hang Seng berbalik turun pada perdagangan terbaru di Hong Kong hari Kamis (12/2), melemah sekitar 0,9% dan turun ke kisaran 27.0 ribu setelah sesi sebelumnya sempat menguat. Pelemahan ini memutus momentum reli jangka pendek, seiring investor...