Tuesday, 13 January 2026
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
Antara Inflasi,Resesi dan Ekonomi Global
Tuesday, 18 November 2025 23:13 WIB | FISCAL & MONETARY |Federal Reserve

Perekonomian global memasuki fase rapuh,pertumbuhan melambat, sementara bayang-bayang resesi belum benar-benar hilang. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya sekitar 2,3% pada 2025, dengan pemulihan yang "lesu" di tahun-tahun berikutnya.

Di Amerika Serikat, beberapa model kini menilai probabilitas resesi di kisaran 20“40% hingga akhir 2025, menunjukkan risiko penurunan tetap nyata meski belum menjadi skenario dasar.

IMF juga mengingatkan bahwa ketidakpastian yang berkepanjangan, proteksionisme, dan kerentanan fiskal dapat menjadi pemicu guncangan berikutnya bagi ekonomi dunia.

Di sisi lain, inflasi global memang turun dari puncak krisis, tetapi masih belum kembali nyaman ke target. OECD mencatat inflasi negara-negara maju bertahan di sekitar 4,2% pada 2025, dan baru diperkirakan mereda lebih jauh pada 2026.

Laporan terbaru menunjukkan inflasi di kelompok G20 turun dari 6,2% menjadi sekitar 3,6% pada 2025, namun Amerika Serikat menjadi pengecualian karena inflasi diperkirakan justru tertahan sedikit di bawah 4% dan masih di atas target.

Di Eropa, inflasi sudah kembali mendekati 2% sehingga Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga setelah sebelumnya memangkas total 200 basis poin sejak 2024, menandai fase baru di mana kekhawatiran bergeser dari inflasi tinggi ke risiko inflasi yang justru terlalu rendah.

Dalam konteks itu, perdebatan mengenai pemangkasan suku bunga (cut rate) menghangat di bank-bank sentral utama. The Federal Reserve AS baru saja memangkas suku bunga acuan seperempat poin ke kisaran 3,75“4,00% pada akhir Oktober dan mengakhiri pengetatan neraca, namun para pejabatnya kini terbelah soal perlu tidaknya pemotongan lanjutan pada Desember.

Gubernur Fed Christopher Waller secara terbuka mendorong pemangkasan lagi dengan alasan pasar tenaga kerja melemah dan tekanan inflasi sudah jauh mereda, sementara sebagian pejabat lain memilih berhati-hati, apalagi ekonomi baru saja diguncang shutdown pemerintah AS selama enam minggu yang menghapus miliaran dolar aktivitas dan mengacaukan aliran data resmi.

Di Eropa, ECB yang sudah lebih dulu memangkas suku bunga kini memberi sinyal ruang penurunan lanjutan hanya jika risiko inflasi terlalu rendah meningkat.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, dinamika resesi, inflasi, dan cut rate global ini akan menentukan arah arus modal, pergerakan nilai tukar, dan harga komoditas faktor yang pada akhirnya berimbas langsung pada daya beli dan aktivitas riil di dalam negeri.(cay)

Sumber: Newsmaker.id

RELATED NEWS
Menurut Steven Miran Suku Bunga Tahun 2026 Masih Bisa Turun Sebesar 150 Bps...
Thursday, 8 January 2026 22:55 WIB

Gubernur Federal Reserve, Stephen Miran, mengatakan pada hari Kamis bahwa ia menargetkan penurunan suku bunga sebesar 150 basis poin tahun ini untuk mendorong pasar tenaga kerja AS. Miran mengatakan ...

Wakil Ketua Fed Bowman Menguraikan Upaya Modernisasi Regulasi...
Thursday, 8 January 2026 05:35 WIB

Wakil Ketua Federal Reserve untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menguraikan perubahan signifikan pada pengawasan dan regulasi perbankan selama pidatonya di Seminar Presiden Bank Asosiasi Bankir Califor...

Menurut Petinggi Fed Masih Ada Peluang Pemangkasan Suku Bunga Lanjutan...
Tuesday, 6 January 2026 23:47 WIB

Perubahan lebih lanjut pada suku bunga jangka pendek Federal Reserve perlu "disesuaikan dengan cermat" berdasarkan data yang masuk mengingat risiko terhadap target lapangan kerja dan inflasi bank sent...

Barkin: Ekonomi AS di Titik Rapuh, Data Jadi Penentu...
Tuesday, 6 January 2026 20:26 WIB

Presiden Bank Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, mengatakan prospek kebijakan moneter tetap berada dalam keseimbangan yang rapuh mengingat tekanan yang saling bertentangan dari meningkatnya pengang...

Rapat Desember Tak Sejalan, Risalah Fed Picu Spekulasi Pasar...
Wednesday, 31 December 2025 02:12 WIB

Bank Sentral AS (Federal Reserve) setuju untuk memangkas suku bunga pada pertemuan Desember hanya setelah perdebatan yang sangat bernuansa tentang risiko yang dihadapi ekonomi AS saat ini, menurut cat...

LATEST NEWS
Harga emas melonjak di atas $4.500, siap untuk kenaikan mingguan 4% setelah data NFP AS dirilis

Harga emas naik pada hari Jumat, siap untuk diakhiri dengan kenaikan mingguan hampir 4% karena laporan ketenagakerjaan di AS beragam, dengan ekonomi menambah lebih sedikit lapangan kerja daripada yang diproyeksikan. Namun, Tingkat Pengangguran...

Emas Masih Jadi Buruan para Pelaku pasar

Harga emas kembali menguat pada perdagangan terbaru setelah sempat tertekan, didorong oleh melemahnya dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian arah...

Perak Sesi Eropa Kemana?

Perak bergerak di sekitar $77.430, geraknya cenderung menunggu pemicu dari dolar AS & hasil. Kalau dolar menguat, perak biasanya ketahan; kalau dolar melemah, perak lebih mudah lagi naik.Fundamentalnya masih ditopang safe haven (ketidakpastian...

POPULAR NEWS