
Harga emas naik ke sekitar US$4.320 per ons pada Senin(15/12), makin dekat ke rekor tertinggi sepanjang masa. Pasar kini fokus menunggu data ekonomi AS minggu ini untuk membaca arah suku bunga The Fed, terutama laporan tenaga kerja (Selasa) dan data inflasi (Kamis) yang bisa jadi "penentu" langkah berikutnya. Minggu lalu, The Fed memangkas suku bunga 25 bps untuk ketiga kalinya tahun ini, tapi keputusan itu tidak bulat karena ada pejabat yang menilai inflasi masih tinggi dan lebih aman menunggu data tambahan sebelum melonggarkan lagi di 2026. Di sisi lain, emas sudah melonjak lebih dari 60%...
Harga perak masih bertahan di level tinggi setelah reli kuat dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini didukung ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, pelemahan dolar, serta permintaan industri yang solid dari sektor panel surya, elektronik, dan kendaraan listrik. Kombinasi fungsi perak sebagai logam industri dan aset lindung nilai membuatnya jadi incaran banyak investor. Namun, setelah lonjakan tajam, perak sekarang lebih rawan koreksi jika ada pemicu negatif kecil, seperti data ekonomi AS yang kuat atau komentar hawkish dari bank sentral. Aksi ambil untung bisa cepat menekan harga...
Harga emas naik pada Senin(15/12) karena dolar AS melemah dan yield obligasi AS turun, bikin emas (aset tanpa bunga) jadi lebih menarik. Dari sisi fundamental, pelaku pasar lagi nge-price-in prospek suku bunga lebih rendah setelah The Fed baru-baru ini memangkas suku bunga 25 bps. Sementara fokus berikutnya tertuju ke rilis data AS (terutama Non-Farm Payrolls) - kalau data tenaga kerja melemah, biasanya ekspektasi pelonggaran makin kuat dan itu bisa jadi bahan bakar tambahan buat emas.(alg) Sumber : Newsmaker.id