Saturday, 21 July 2018
Jakarta
--:--
Tokyo
--:--
Hongkong
--:--
New York
--:--
Draghi: ECB Masih Belum Bisa Capai Target Inflasi pada tahun 2020
Thursday, 14 December 2017 21:34 WIB | FISCAL & MONETARY | ECBMario Draghi

Mario Draghi tidak lagi menyatakan bahwa Bank Sentral Eropa akan memenuhi target inflasi pada 2020, mengindikasikan bahwa ekonomi kawasan euro belum cukup kuat untuk menjamin penyisihan stimulus moneter.

Presiden ECB mengumumkan proyeksi ekonomi terbaru yang menunjukkan pertumbuhan yang kuat selama tiga tahun ke depan namun terdapat perlambatan kenaikan pada harga konsumen. Inflasi akan rata-rata berada di 1,7 persen pada 2020, di bawah target 2 persen. Pembuat kebijakan sebelumnya mempertahankan suku bunga dan menjaga pelonggaran kuantitatif mereka tidak berubah.

Diskusi Dewan Pengurus "mencerminkan peningkatan kepercayaan yang kita miliki dalam konvergensi inflasi menuju jalur mandiri dalam jangka menengah," kata Draghi dalam konferensi pers pada hari Kamis, menambahkan bahwa "level yang cukup besar" untuk stimulus masih diperlukan. "Tekanan harga domestik tetap teredam secara keseluruhan dan belum menunjukkan tanda-tanda yang meyakinkan dari tren kenaikan berkelanjutan."

Peringatan dari pimpinan ECB muncul di tengah serentetan keputusan bank sentral dalam 24 jam terakhir yang memberi sinyal kebijakan moneter global menjadi lebih ketat ke depannya. Federal Reserve AS mengumumkan kenaikan suku bunga ketiga tahun ini, Cina secara tak terduga menaikkan biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan bank sentral Norwegia memberi sinyal bahwa mereka mungkin akan menaikkan suku bunga lebih awal dari sebelumnya.

Bank Nasional Swiss memperkirakan inflasi akan melampaui targetnya pada akhir 2020, meskipun mengatakan tidak akan terburu-buru dalam menaikkan suku bunga. Bank of England, yang menaikkan suku bunga bulan lalu untuk pertama kalinya dalam satu dekade, mempertahankan kebijakan yang tidak berubah di London.

Draghi mengatakan momentum siklis yang kuat dapat memberikan kejutan pertumbuhan positif lebih lanjut dalam waktu dekat. Risiko penruuan sebagian besar terkait faktor global, katanya.

Dewan Pengatur akan mengurangi separuh pembelian aset menjadi 30 miliar euro ($ 35 miliar) per bulan mulai bulan Januari dan berlanjut setidaknya selama sembilan bulan sampai akhir September. Mereka berjanji untuk meningkatkan atau memperpanjang pembelian jika prospek inflasi memburuk, dan mengharapkan suku bunga tetap tidak berubah sampai melewati masa akhir pembelian aset bersih. Para pejabat juga akan menginvestasikan kembali hasil dari kepemilikan hutang yang jatuh tempo selama diperlukan. (Sdm)

Sumber: Bloomberg

 

RELATED NEWS
Powell; kenaikan suku bunga bertahap merupakan 'jalan terbaik ke depannya'...
Tuesday, 17 July 2018 21:38 WIB

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Selasa mengatakan berlanjutnya kenaikan suku bunga secara bertahap merupakan "jalan terbaik ke depannya" untuk kebijakan moneter. "Dengan pasar tenaga kerja ya...

RBA Lihat Pertumbuhan Yang Kuat Pangkas Pengangguran, Angkat Inflasi...
Tuesday, 17 July 2018 09:26 WIB

Bank sentral Australia mengharapkan ekonomi yang menguat untuk secara bertahap mengurangi pengangguran dan mengangkat inflasi, menegaskan kembali tidak ada kasus yang kuat untuk langkah kebijakan jang...

Draghi Mengatakan Inflasi Zona Euro Berada Dijalur Mandiri...
Monday, 9 July 2018 21:14 WIB

Mario Draghi mengatakan peningkatan inflasi zona euro berada di jalur mandiri, memungkinkan Bank Sentral Eropa untuk menarik pembelian obligasinya meskipun meningkatkan tensi perang perdagangan global...

Fed Minutes: Risiko negatif ekonomi dari kebijakan perdagangan AS telah meningkat...
Friday, 6 July 2018 04:02 WIB

The Federal Reserve pada awal Juni melihat bahwa risiko negatif dari kebijakan perdagangan AS "telah meningkat" dan dapat memiliki efek negatif pada sentimen bisnis dan pengeluaran investasi, menurut ...

Australia Pertahankan Suku Bunga Utama Seiring Penurunan Mata Uang Yang Mendukung Ekspor ...
Tuesday, 3 July 2018 12:52 WIB

Australia mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah pada rekor rendah pada Selasa karena penurunan mata uang baru-baru ini membantu perekonomian dengan menawarkan eksportir beberapa penyekatan ...

LATEST NEWS
Saham Hong Kong lebih tinggi di penutupan (Review)

Saham Hong Kong ditutup lebih tinggi Jumat, diikuti saham China untuk pertama kalinya pekan ini karena mata uang yuan yang lemah menentang serangan Presiden AS Trump pada dolar yang kuat. Indeks Hang Seng naik 0,76%, atau 213,62 poin, menjadi...

Pompeo: AS Tak Izinkan Rusia Interogasi Mantan Dubes AS

Amerika tidak berniat mengizinkan Rusia menginterogasi Michael McFaul, mantan duta besar Amerika untuk Rusia, yang juga pengecam keras Presiden Rusia Vladimir Putin, kata Menteri Luar Negeri Mike Pompeo kepada VOA, Kamis (19/7). œItu tidak akan...

Dolar mengalami penurunan satu hari terbesar dalam 3 minggu setelah komentar Trump

Dolar AS terpukul pada Jumat ini setelah Presiden Donald Trump menuduh China dan Uni Eropa terhadap manipulasi mata uang dan suku bunga yang menurutnya telah merugikan AS. Indeks Dolar AS diperdagangkan 0,7% lebih rendah ke 94,478 setelah cuitan...

POPULAR NEWS
Emas berakhir sedikit lebih tinggi, menghindari zona negatif
Thursday, 19 July 2018 03:20 WIB

Harga emas berakhir sedikit lebih tinggi pada Rabu ini, mengakhiri penurunan tiga sesi beruntun seiring indeks acuan dolar yang bergeser ke level...

Harga Emas Pangkas Penurunan, Tetapi Masih Berakhir Pada Level 1 Tahun Terendah
Friday, 20 July 2018 00:55 WIB

Emas berjangka menyerahkan sebagian besar penurunannya pada Kamis ini, tetapi masih berakhir pada level terendahnya dalam sekitar satu tahun...

Harga Emas Berada Di Level Setahun Terendahnya
Thursday, 19 July 2018 17:19 WIB

Emas diperdagangkan pada level terendah dalam setahun setelah pernyataan Ketua Federal Reserve  Jerome Powell mengenai pekerjaan serta inflasi...

Emas Menuju Penurunan Mingguan dengan Prospek Suku Bunga Jadi Fokus
Friday, 20 July 2018 09:02 WIB

Emas turun untuk di perdagangkan di dekat level terendah dalam setahun seiring investor menimbang komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell...